Home » , » Lafaek : Isu Penangkapan dan Penyiksaan Prabowo Subianto

Lafaek : Isu Penangkapan dan Penyiksaan Prabowo Subianto

Nama aslinya Afonso Henriques Pinto. Ia akrab disapa Lafaek. Seorang tokoh masyarakat dan pernah menjabat Ketua DPRD Tingkat II Kabupaten Viqueque, Timor Timur. Mantan Komandan Makikit, salah satu kelompok pro-integrasi ini pertama kali bertemu Prabowo Subianto pada 1979 di Kecamatan Ossu, Kabupaten Viqueque, arah tenggara dari Dili. Saat itu Prabowo sedang menjalani penugasan kedua di Timor Timur. Operasi yang ditandai dengan sukses penangkapan tokoh Fretilin, Nicolau Lobato.

Intensitas pertemuan Lafaek dengan Prabowo meningkat pada 1983, ketika sang kapten beroleh penugasan ketiga di Bumi Loro Sae. Kali ini, Prabowo datang sebagai Wakil Komandan Detasemen 81 Kopassus. Komandannya, Luhut Pandjaitan. ”Tetapi yang lebih banyak terjun ke lapangan bersama saya, ya….Pak Prabowo,” kata Lafaek. Dari Dili, pasukan Detasemen 81 dikirim ke Viqueque, karena waktu itu sedang terjadi pemberontakan di Desa Craras.

Menurut Lafaek, pemberontakan tersebut dipicu oleh tindak asusila yang dilakukan oleh sekelompok prajurit Zipur terhadap istri anak buah Lafaek. Untuk diketahui, selain menjadi Ketua DPRD Viqueque, Lafaek ketika itu memimpin dua pasukan. Pasukan pertama disebut Rati Railakang alias Pasukan Petir, satunya lagi Hansip (Pertahanan Sipil). Pasukan Rati Railakang inilah yang melakukan pemberontakan, karena marah pada prajurit Zipur.

Oleh Lafaek, kasus asusila tersebut dilaporkan ke Kodim. Selanjutnya, Kodim mengutus seorang perwira bintal (pembinaan mental) untuk mengatasi masalah itu. Urusan sebenarnya sudah bisa diselesaikan, tetapi anggota Rati Railakang itu tak terima. ”Menurut saya, bekas anggota saya itu tidak terima karena diprovokasi dari belakang oleh oknum - oknum yang tidak menerima integrasi Timor Timur ke Indonesia,” tuturnya.

Ketidakpuasan itu berujung maut. oknum - oknum anggota Rati Railakang tadi bertindak nekat, melakukan aksi pembunuhan terhadap tentara Zipur di Desa Craras. Tentara yang gugur mencapai 20 orang. Akibatnya, kontak damai (gencatan senjata) yang semula telah disepakati, tak bisa dijalankan. Pertempuran kembali pecah. ”Saat itulah saya menemui Pak Prabowo, meminta bantuan pengamanan di daerah saya,” katanya.


Menurut Lafaek, Viqueque saat itu menjadi daerah paling rawan di Timor Timur. Terlebih setelah anggota - anggota Rati Railakang yang terlibat pembunuhan bergabung dengan Xanana Gusmao di hutan. Praktis, hanya pasukan hansip yang masih bersama Lafaek. belakangan, setelah beroleh izin meninggalkan kantornya di DPRD, Lafaek bergabung dengan pasukan Den-81 yang dipimpin Prabowo.

Tujuan operasi waktu itu adalah untuk menarik atau memanggil kembali rakyat yang tidak tahu masalah, tapi telanjur dibawa ke hutan. ”Kita berusaha memanggil mereka kembali dan berusaha menyadarkan anggota - anggota Rati Railakang yang desersi agar kembali ke pangkuan ibu pertiwi,” tutur Lafaek.

Operasi pun digelar untuk memulihkan kembali keamanan di Viqueque khususnya, dan di sektor timur umumnya. Pasukan Den-81 dan pasukan Lafaek mulai bergerak ke sana. Lambat laun, rakyat mulai banyak yang diajak turun dari hutan. Pendekatan dilakukan dengan cara persuasif. Misalnya, melalui tulisan berbahasa Tetun, mengimbau mereka untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Tulisan tersebut disampaikan melalui kurir.

Prabowo tidak jarang ikut terlibat menulis imbauan, lalu dikirim ke hutan. Hasilnya? ”Rakyat banyak yang turun, tapi pasukan Railakang tidak ikut turun. Satu-satunya cara, kita mesti mengejar dan menangkap mereka,” kata Lafaek. Dari situlah Prabowo dan Lafaek kemudian bergabung, lalu bersama-sama menembus belantara hutan. Selama itu, Lafaek mengaku sering mengalami suka duka. Termasuk ketika harus melakukan aksi penyelamatan lantaran terkepung oleh Fretilin.

Saat itu September 1983. Prabowo bersama pasukan sedang berada di hutan untuk membuntuti musuh yang jumlahnya 300-an, dipimpin langsung oleh Xanana Gusmao. Bersama 10 anggota pasukan, Lafaek diterbangkan dengan heli menyusul Prabowo yang ketika itu berada di pegunungan Waimuri.

Secara geografis, lokasi tersebut sangat berbahaya. Jurang sangat dalam, gunung menjulang tinggi, sangat berbahaya untuk dilakukan operasi. Terlebih lagi, kekuatan pasukan Prabowo dan pasukan Xanana tidak berimbang. Ditambah pasukan Lafaek, kekuatan pasukan Prabowo hanya sekitar 80 orang. Sementara kekuatan pasukan musuh di kisaran 300 orang. Kalau dipaksakan menyerang, risikonya terlalu besar.

Dengan kondisi seperti itu, langkah yang harus segera dilakukan justru membawa pasukan keluar dari tempat - tempat berbahaya itu. Prabowo dan Lafaek tahu persis, pasukan Xanana pun tidak akan memaksakan diri menyerang di wilayah terjal seperti itu. Mereka akan menunggu di tempat yang lebih landai.Tidak ada pilihan. Untuk menghindar dari cegatan pihak musuh, Prabowo dan Lafaek harus melewati sungai yang sebenarnya tidak kalah rawan untuk dilewati. Mereka akhirnya memutuskan terjun ke kedalaman sungai, lalu berjalan mengendap - endap mengikuti arus yang cukup besar. Air sungai setinggi leher mereka. ”Saya yakin, musuh tidak akan berpikir kita memilih jalur sungai yang sangat berbahaya. Mereka pasti menunggu di tempat landai, di balik tebing,” urai Lafaek.

Selama belasan jam, mulai pukul 10 pagi hingga menjelang tengah malam, Prabowo bersama pasukannya berjalan tanpa suara menyelusuri sungai. Bergerak menjauh, dari hulu menuju hilir. ”Secara kasat mata, kita memang tidak melihat bayangan musuh. Tapi musuh pasti ada di sekitar itu. Di atas kita, di tebing sungai,” kata Lafaek.

Bersyukur, pasukan Prabowo dan Lafaek tiba dengan selamat. Mereka sampai di hilir, tempat yang cukup terbuka di Desa Wikari, desa asal Lafaek. ”Perjalanan yang melelahkan. Kami tidak berjalan biasa, tapi bikin jalan perintis. Berjalan sejenak, menoleh kiri kanan, mendengarkan sesuatu, baru jalan lagi. Apalagi, di sepanjang perjalanan, kami tidak makan. Hanya minum air dari cangkir yang kami bawa sebagai bekal,” ujar Lafaek. Setelah fajar tiba, pasukan masuk ke desa. Dari Wikari, Prabowo baru bisa mengontak Dili, minta dijemput dengan heli.

Kehebohan menyeruak. entah dari mana muasalnya, di Dili – bahkan merebak sampai ke Jakarta – tersiar kabar yang menyebut Prabowo bersama pasukannya tertangkap musuh dan mengalami penyiksaan. ”Barangkali karena belasan jam kami hilang kontak dengan markas. Mereka pikir kami tertangkap,” kata Lafaek.

Lafaek masih ingat, ada anggota DPR RI asal Timor Timur, Maria Petronela, yang menghubunginya untuk mengkonfirmasikan kebenaran berita itu. ”Saya katakan, tidak pernah ada. Hanya isu. Tidak benar Pak Prabowo ditangkap atau disiksa. Kami selalu bersama hingga keluar dari kepungan musuh,” jawab Lafaek. Petronela sempat mengundang Lafaek ke Jakarta untuk menjelaskan hal itu di depan para wakil rakyat. ”Saya menolak,” cetus Lafaek.

Thanks for reading Lafaek : Isu Penangkapan dan Penyiksaan Prabowo Subianto

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

2 comments: